Selasa, 19 Agustus 2025

Kemajuan Teknologi: Manfaat Besar yang Bisa Menjadi Bumerang Jika Tak Dikelola dengan Baik

 


Pendahuluan


Tidak ada satu pun peradaban dalam sejarah manusia yang berkembang tanpa teknologi. Dari penemuan roda, mesin cetak, listrik, hingga internet, teknologi selalu menjadi penentu arah kehidupan manusia. Kita hidup di era yang sering disebut sebagai era revolusi industri 4.0—bahkan sudah mulai masuk ke wacana Society 5.0, di mana hampir seluruh aspek kehidupan manusia terhubung dengan teknologi cerdas berbasis data dan kecerdasan buatan.

Namun, di balik keajaiban teknologi yang mempermudah hidup kita, ada satu pertanyaan besar yang kerap terlupakan: apakah kita benar-benar siap mengelolanya dengan bijak?

Tanpa pengelolaan yang tepat, kemajuan teknologi bukan hanya menghadirkan solusi, tetapi juga masalah baru. Pendidikan bisa terganggu, relasi sosial menjadi rapuh, budaya lokal tergerus, hingga kesehatan mental manusia ikut terkikis. Artikel ini akan mengupas secara mendalam bagaimana kemajuan teknologi bisa menjadi pedang bermata dua, serta mengapa kita harus serius dalam mengelolanya agar tidak terjerumus dalam dampak buruknya.


Teknologi dalam Pendidikan: Pisau Bermata Dua

Pendidikan adalah salah satu bidang yang paling cepat merasakan dampak dari perkembangan teknologi. Digitalisasi kelas, platform e-learning, dan sumber belajar online menghadirkan peluang luar biasa. Namun, peluang ini juga menghadirkan risiko serius jika tidak dikelola dengan benar.


Dampak Positif


  • Akses informasi tanpa batas: siswa bisa belajar apa saja hanya dengan satu klik.

  • Metode belajar lebih interaktif: adanya gamifikasi dan multimedia membuat pelajaran lebih menarik.

  • Pemerataan akses pendidikan: daerah terpencil sekalipun kini bisa mengakses bahan ajar digital.

Dampak Negatif


  • Ketergantungan berlebihan pada gadget: siswa lebih sibuk bermain media sosial ketimbang fokus belajar.

  • Merosotnya kemampuan berpikir kritis: banjir informasi membuat anak-anak cenderung copy–paste tanpa mencerna.

  • Terganggunya interaksi sosial di kelas: pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter melalui interaksi tatap muka.

Jika guru dan orang tua tidak ikut terlibat aktif dalam mendampingi, teknologi pendidikan bisa berubah menjadi distraksi pendidikan.


Dampak Sosial: Koneksi Semu, Isolasi Nyata

Teknologi media sosial menghubungkan miliaran orang di seluruh dunia. Kita bisa mengetahui kabar teman, keluarga, bahkan orang asing hanya dalam hitungan detik. Namun, semakin luas jaringan virtual yang kita miliki, sering kali semakin dangkal pula kualitas hubungan nyata kita.


  • Koneksi semu: Orang lebih sering berkomunikasi lewat layar daripada bertatap muka. Akibatnya, rasa empati dan keterampilan sosial menurun.

  • Fenomena FOMO (Fear of Missing Out): Banyak orang merasa tertinggal jika tidak aktif di media sosial, sehingga terus menerus cemas.

  • Polarisasi sosial: algoritma media sosial menciptakan “ruang gema” (echo chamber) yang memperkuat bias dan memperlebar jurang perbedaan.

  • Teknologi yang seharusnya mempererat hubungan sosial justru berpotensi menjadikan manusia lebih terisolasi secara emosional.


Dampak Budaya: Globalisasi atau Homogenisasi?


Kemajuan teknologi membawa budaya global ke hadapan kita. Musik K-Pop, film Hollywood, mode Jepang, makanan cepat saji Amerika—semuanya dapat diakses hanya dengan satu ketukan jari. Globalisasi budaya memang memperkaya pengalaman hidup kita. Tetapi ada bahaya besar: budaya lokal bisa terkikis dan kehilangan tempatnya.


  • Bahasa daerah semakin jarang digunakan. Anak muda lebih akrab dengan istilah bahasa asing ketimbang bahasa ibu.

  • Tradisi dianggap kuno. Banyak generasi muda yang merasa adat istiadat nenek moyang tidak lagi relevan.

  • Komersialisasi budaya. Tradisi dijadikan sekadar tontonan demi konten media sosial, kehilangan makna spiritualnya.


Jika tidak dikelola, kemajuan teknologi akan menciptakan generasi yang lebih mengenal budaya luar ketimbang jati dirinya sendiri.


Dampak Psikologis: Generasi Cemas di Era Digital

Salah satu dampak paling nyata dari teknologi adalah pada kesehatan mental. Studi menunjukkan bahwa penggunaan gadget berlebihan berhubungan dengan meningkatnya angka kecemasan, depresi, dan gangguan tidur.

Beberapa contoh nyata:


  • Kecanduan layar: anak-anak dan remaja menghabiskan waktu berjam-jam di depan gadget, mengurangi aktivitas fisik.

  • Dopamin instan: like, share, dan komentar di media sosial memberikan kepuasan cepat, tapi membuat otak terbiasa dengan penghargaan instan.

  • Perbandingan sosial: melihat kehidupan “sempurna” orang lain di media sosial menimbulkan rasa rendah diri.

Teknologi yang seharusnya membantu manusia berkembang, ironisnya bisa membuat manusia terjebak dalam lingkaran stres yang diciptakan oleh sistem algoritma.


Dampak Ekonomi: Inovasi yang Mengancam Lapangan Kerja


Di bidang ekonomi, teknologi melahirkan revolusi besar. E-commerce, fintech, hingga kecerdasan buatan menghadirkan efisiensi yang belum pernah ada sebelumnya. Namun, di balik itu, teknologi juga membawa ancaman serius.


  • Otomatisasi pekerjaan: mesin dan AI menggantikan pekerjaan manusia, terutama di sektor manufaktur dan jasa.

  • Kesenjangan digital: mereka yang tidak memiliki keterampilan digital tertinggal jauh, bahkan kehilangan kesempatan kerja.

  • Monopoli digital: segelintir perusahaan raksasa teknologi menguasai data dan pasar, memperlebar jurang antara kaya dan miskin.


Alih-alih menjadi sarana pemberdayaan, teknologi bisa melahirkan bentuk baru dari ketidakadilan sosial dan ekonomi.


Tantangan Etika dan Moral

Selain aspek praktis, kemajuan teknologi juga menimbulkan dilema etis yang rumit.


  • Privasi: data pribadi kita dikumpulkan tanpa kita sadari.

  • Deepfake dan hoaks: sulit membedakan mana yang asli dan palsu.

  • AI tanpa etika: kecerdasan buatan bisa mengambil keputusan yang memengaruhi kehidupan manusia tanpa pertanggungjawaban moral.

Jika manusia tidak mampu menempatkan batas etis, maka teknologi bisa menjadi kekuatan yang lebih berbahaya daripada manfaatnya.


Solusi: Mengelola Teknologi dengan Bijak

Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap? Jawabannya bukan dengan menolak teknologi, melainkan mengelolanya secara bijak.


1. Pendidikan Digital Sejak Dini

Anak-anak harus dibekali literasi digital, bukan hanya kemampuan teknis, tapi juga kesadaran etis dan kritis dalam menggunakan teknologi.


2. Kebijakan Pemerintah yang Tegas

Regulasi harus mampu melindungi privasi, mengatur distribusi teknologi, dan mencegah monopoli digital.


3. Keseimbangan dalam Kehidupan

Manusia perlu membatasi penggunaan teknologi, mengutamakan interaksi nyata, dan menjaga kesehatan mental.


4. Pelestarian Budaya Lokal

Teknologi seharusnya menjadi sarana memperkuat budaya, bukan menghapusnya. Digitalisasi budaya bisa dilakukan tanpa kehilangan makna.


5. Etika dalam Inovasi

Setiap inovasi teknologi harus selalu mempertimbangkan dampak moral dan kemanusiaan.


Penutup


Teknologi adalah cermin dari peradaban kita. Ia tidak pernah benar-benar baik atau buruk; yang menentukan adalah bagaimana manusia mengelolanya. Jika dibiarkan tanpa kendali, teknologi bisa melahirkan generasi yang kehilangan identitas, rapuh secara sosial, cemas secara psikologis, dan terjebak dalam ketidakadilan ekonomi.


Namun, jika kita mampu mengelola dengan bijak, teknologi bisa menjadi jembatan menuju peradaban yang lebih manusiawi, adil, dan berkelanjutan.


Pada akhirnya, kemajuan teknologi bukan soal siapa yang paling cepat beradaptasi, tetapi siapa yang paling bijak mengendalikannya.


Wajah yang Kita Cuci Setiap Pagi

 


Ada ritual yang kita lakukan setiap hari tanpa pernah mempertanyakannya: mencuci wajah.

Kita melakukannya bukan hanya untuk menghilangkan debu atau keringat, tapi untuk memastikan topeng yang akan kita pakai hari itu menempel dengan sempurna.


Di cermin, kita melihat pantulan diri yang akan dipamerkan pada dunia. Wajah yang terlihat ramah, suci, dan terhormat. Wajah yang bisa dipercaya. Wajah yang akan tersenyum pada orang lain sambil menutupi borok di dalam hati.

Kita tahu, begitu keluar rumah, semua orang sedang melakukan hal yang sama.


Topeng ini bukan sekadar kosmetik. Ia adalah bahasa tubuh, nada suara, pilihan kata, bahkan cara kita tertawa di hadapan orang lain. Kita belajar sejak kecil bagaimana caranya menjadi “terlihat baik.” Kita diajarkan untuk menyembunyikan amarah, rasa iri, dendam, atau niat busuk—bukan untuk menghilangkannya, hanya untuk memastikan orang lain tidak melihatnya.


Dan seperti semua kebiasaan, lama-lama kita lupa kalau yang kita tunjukkan bukan diri kita yang sebenarnya. Kita mulai percaya bahwa topeng itu adalah wajah asli kita.



---


Aku pernah duduk di sebuah rapat bersama orang-orang yang dielu-elukan publik. Para tokoh yang kerap tampil di televisi, berbicara tentang moral, keadilan, dan kemanusiaan. Mereka berpidato dengan bahasa indah, membuat penonton percaya bahwa mereka adalah penyelamat bangsa. Tapi di meja rapat itu, aku melihat mereka tawar-menawar soal komisi, membicarakan siapa yang harus disingkirkan, dan menghitung untung rugi dari setiap keputusan yang katanya “untuk rakyat.”


Aku pulang hari itu dengan kepala penuh suara: “Ternyata mereka semua sama saja.” Tapi beberapa minggu kemudian, aku sadar, aku pun tidak jauh berbeda.

Aku mungkin tidak duduk di kursi kekuasaan, tapi aku juga pernah memilih diam ketika kebusukan terjadi di hadapanku. Aku juga pernah memuji seseorang di depan wajahnya, lalu menggunjingkannya di belakang. Aku juga pernah tersenyum pada orang yang tidak aku sukai, hanya demi menjaga hubungan baik.


Mungkin kita semua memang sama saja—beda panggung, beda peran, tapi topengnya serupa.



---


Topeng sosial ini tidak hanya dipakai oleh politisi, pejabat, atau tokoh agama. Ia juga menempel di wajah orang biasa seperti kita.

Seorang tetangga yang setiap hari memberi salam hangat, tapi mengeluh tentang kita di grup keluarga. Seorang teman kerja yang selalu menawarkan bantuan, tapi diam-diam berharap kita gagal. Seorang pemuka agama yang berceramah tentang kesucian, tapi memelihara rahasia kelam di dalam rumahnya.


Kemunafikan bukan lagi aib di negeri ini. Ia justru jadi mata uang sosial yang paling laku.

Siapa yang paling pandai berpura-pura, dialah yang paling mudah naik. Kita mengukur kesuksesan dari seberapa mulus topeng seseorang menutupi wajah aslinya.


Dan yang ironis, kita semua tahu topeng itu ada. Kita tahu orang-orang di sekitar kita memakainya. Tapi kita pura-pura tidak tahu, karena kita sendiri juga sedang memakainya.



---


Dulu, aku berpikir masalah bangsa ini hanya ada di pucuknya: para pejabat, orang berkuasa, dan para pemimpin palsu. Tapi semakin aku melihat ke bawah, semakin aku sadar, akar masalahnya jauh lebih dalam. Ia tumbuh di rumah-rumah kita, di meja makan kita, di cara kita mendidik anak, di cara kita mencari nafkah, bahkan di cara kita bersosialisasi.


Kita mengajari anak untuk “selalu berkata jujur,” tapi kita juga mengajari mereka cara berbohong yang aman.

Kita bilang “jangan korupsi,” tapi kita menyuap guru les untuk memberi nilai tambahan.

Kita berkata “jangan sakiti orang lain,” tapi kita mengajarkan mereka untuk menyerang orang yang berbeda pandangan.


Setiap pagi, kita mencuci wajah, lalu menempelkan topeng. Dan dengan penuh percaya diri, kita melangkah keluar seolah tidak ada yang salah dengan itu.



---


Aku ingat seorang teman berkata, “Kalau mau hidup di negeri ini, jangan terlalu polos. Harus pintar bawa diri.”

Awalnya, aku mengartikan itu sebagai nasihat untuk berhati-hati. Tapi lama-lama, aku sadar, itu adalah kode untuk berkata: “Jangan terlalu jujur. Sesuaikan topengmu dengan situasi.”


Dan begitulah kita bertahan. Kita tidak pernah benar-benar saling percaya, tapi kita juga tidak berani membongkar topeng orang lain, karena kita takut topeng kita dibongkar balik. Kita menciptakan kesepakatan tidak tertulis: “Aku tidak akan buka aibmu, kalau kamu juga tidak buka aibku.”


Kita memanggil itu “tenggang rasa.” Padahal sebenarnya, itu adalah konspirasi besar untuk menjaga kebusukan tetap rapi.



---


Yang lebih menyedihkan, topeng ini tidak hanya menipu orang lain. Lama-lama, ia juga menipu kita sendiri.

Kita mulai percaya bahwa kita memang orang baik, hanya karena semua orang melihat kita sebagai orang baik. Kita lupa memeriksa isi hati kita yang sebenarnya. Kita lupa bertanya: “Kalau aku sendirian, tanpa ada yang melihat, siapa aku sebenarnya?”


Dan ketika suatu hari topeng itu retak—karena sebuah skandal, kegagalan, atau kebocoran rahasia—kita tidak tahu lagi bagaimana caranya hidup tanpa topeng. Kita panik, kita marah, kita mencari kambing hitam. Kita akan melakukan apa saja untuk menempelkan topeng itu kembali, bahkan jika harus menjatuhkan orang lain.



---


Masalahnya, selama topeng ini terus kita pelihara, luka bangsa ini tidak akan pernah sembuh. Bagaimana mungkin kita berharap punya pemimpin yang jujur, jika kita sendiri menganggap kejujuran sebagai kelemahan? Bagaimana mungkin kita berharap hidup di negeri yang bersih, jika kita sendiri bangga menjadi bagian dari permainan kotor?


Kita bisa menyalahkan siapa saja: pemerintah, partai politik, sistem hukum, bahkan sejarah. Tapi pada akhirnya, setiap pagi, kita tetap berdiri di depan cermin, mencuci wajah, dan mengenakan topeng yang sama.



---


Kadang aku bertanya-tanya, apa yang akan terjadi jika suatu hari kita semua berhenti memakai topeng?

Mungkin akan kacau. Mungkin akan ada ledakan kebencian, pertengkaran, dan pengkhianatan yang tidak bisa lagi disembunyikan. Tapi mungkin, justru dari kekacauan itu, kita bisa mulai membangun sesuatu yang asli.


Karena negeri ini tidak akan pernah berubah jika semua orang terus berpura-pura.

Dan aku tidak tahu berapa lama lagi kita bisa bertahan hidup dengan wajah palsu yang kita cuci setiap pagi.

Selasa, 05 Agustus 2025

BUKU KONTEMPLASI

KONTEMPLASI

BUKU KARYA ANAN ABDUL AZIS


Kontemplasi bukan sekedar buku, ia adalah peta batin yang retak. Kumpulan luka, rindu, dan pertanyaan, yang tidak selalu membutuhkan jawaban. Buku ini lahir bukan untuk menginspirasi, tapi sebagai cara bertahan, sebagai sahabat diam bagi mereka yang pernah merasa terlalu lelah untuk menjelaskan rasa sakit.

Di dalamnya, ada percakapan sunyi: dengan Tuhan, dengan keluarga, dengan cinta, dan dengan diri sendiri.

Buku ini tidak menawarkan solusi. Ia hanya ingin menemani.


 Identitas Buku


- Judul: KONTEMPLASI  

- Penulis: Anan Abdul Azis  

- Tahun Terbit: 2025  

- Jumlah Halaman: 262 halaman  

- Format: Cetak & Digital (PDF)  

- Penerbit: Kontenplasi Community ( Sementara )


 Cuplikan Isi Buku :


“Hidup adalah latihan pergi” 

 Sejak kecil kita diajari datang, 

tapi tidak pernah diajari cara meninggalkan.

Padahal hidup, sejatinya,

adalah latihan pergi berulang kali.


Kita meninggalkan masa kecil,

lalu remaja, lalu orang-orang yang tak bisa ikut tumbuh.

Kita pergi dari rumah yang pernah hangat,

dari tangan yang pernah erat, 

dari pelukan yang tak lagi cocok dengan bentuk luka kita sekarang.


Jakarta Selatan, 29 Mei 2019 

 Ananabdlazs


Narasi Latar : 

Puisi ini lahir dari satu perasaan yang terus-menerus menghantui: pergi, tapi tidak pernah benar-benar siap. 

 Kita tumbuh dengan serangkaian perpisahan, tapi jarang diberi ruang untuk menangisi apa yang kita tinggalkan.


Catatan Penulis : 

 Kita terlalu sering dipaksa kuat saat kehilangan, 

padahal kehilangan adalah luka yang sah untuk ditangisi. 

Hidup, bagi banyak dari kita, adalah pelatihan diam-diam untuk melepaskan satu per satu hal yang dulu memberi rasa utuh. 

---


Cara Mendapatkan Buku Ini :


Buku KONTEMPLASI saat ini belum terbit secara cetak, karena masih menunggu penerbit yang akan melakukan Publikasi cetak secara umum. Namun, untuk Digital sudah bisa di dapatkan.


Jika kamu tertarik memiliki Digital dan ingin membaca lebih lanjut:


- 💬 WhatsApp: 0896-0403-5557  

- 📧 Email: [Ananabdlazs03@gmail.com atau Ananpacifico03@gmail.com ]


Tentang Penulis


Anan Abdul Azis menulis bukan untuk menjadi penyair, ia menulis agar tidak hancur. Ini adalah buku keduanya setelah buku berjudul “TEMATIK” yang ia tulis bersama rekannya. Pada buku ini Anan tumbuh dalam kebisingan, tapi mengolah luka-luka dalam diam. Puisinya bukan karya sastra, mereka adalah riwayat tubuh yang memikul terlalu banyak, terlalu lama. Puisinya tidak mencari pujian. Ia mencari ruang. Ruang untuk marah tanpa dikutuk. Ruang untuk rindu tanpa harus ditertawakan. Ruang untuk menjadi manusia, yang rapuh, getir, kalah, muak, dan tetap hidup. Melalui KONTEMPLASI, Anan tak berusaha memberi jawaban. Ia hanya menunjukkan bahwa gelap pun bisa dibagi. Ia tak pernah berniat jadi penyair. Tapi hidup memaksanya menyimpan terlalu banyak yang tak bisa diceritakan. Maka jadilah ini: halaman-halaman yang tidak minta dikagumi, hanya dimengerti. Halaman yang mungkin bisa menjadi teman untuk kalian yang membaca ini.

---


Tag:

#puisi #buku #kontemplasi #ananabdulazis #puisiIndonesia #literasi #bukuIndonesia #bukukontemplasi #filsafat #Ananabdlazs #Ananabdulazis



 Catatan Akhir


Terima kasih telah menyempatkan waktu membaca.  

Jika kamu merasa tidak sendirian setelah membaca buku ini, maka buku ini telah menjalankan fungsinya.




📚 Lihat profil Google Scholar Anan Abdul Azis:
https://scholar.google.com/citations?hl=en&user=OhwuE8sAAAAJ

Selasa, 31 Oktober 2017

Definisi Ilmu Politik Dan Sejarah Perkembangann

    Sebelum mendefinisikan apa itu ilmu politik, maka perlu diketahui lebih dulu apa itu politik. Secara etimologis, politik berasal dari bahasa Yunani ”polis” yang berarti kota yang berstatus negara. Secara umum istilah politik dapat diartikan berbagai macam kegiatan dalam suatu negara yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu.

Menurut Miriam Budiardjo dalam buku ”Dasar-dasar Ilmu Politik”, ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari tentang perpolitikan. Politik diartikan sebagai usaha-usaha untuk mencapai kehidupan yang baik. Orang Yunani seperti Plato dan Aristoteles menyebutnya sebagai en dam onia atau the good life(kehidupan yang baik).
Menurut Goodin dalam buku “A New Handbook of Political Science”, politik dapat diartikan sebagai penggunaan kekuasaan social secara paksa. Jadi, ilmu politik dapat diartikan sebagai sifat dan sumber paksaan itu serta cara menggunakan kekuasaan social dengan paksaan tersebut.

Beberapa definisi berbeda juga diberikan oleh para ahli , misalnya:
• Menurut Bluntschli, Garner dan Frank Goodnow menyatakan bahwa ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari lingkungan kenegaraan.
• Menurut Seely dan Stephen Leacock, ilmu politik merupakan ilmu yang serasi dalam menangani pemerintahan.
• Dilain pihak pemikir Prancis seperti Paul Janet menyikapi ilmu politik sebagai ilmu yang mengatur perkembangan Negara begitu juga prinsip- prinsip pemerintahan, Pendapat ini didukung juga oleh R.N. Gilchrist.
Ilmu politik secara teoritis terbagi kepada dua yaitu :
• Valuational artinya ilmu politik berdasarkan moral dan norma politik. Teori valuational ini terdiri dari filsafat politik, ideologi dan politik sistematis.
• Non valuational artinya ilmu politik hanya sekedar mendeskripsikan dan mengkomparasikan satu peristiwa dengan peristiwa lain tanpa mengaitkannya dengan moral atau norma.

Perkembangan Ilmu Politik
Ilmu politik adalah salah satu ilmu tertua dari berbagai cabang ilmu yang ada. Sejak orang mulai hidup bersama, masalah tentang pengaturan dan pengawasan dimulai. Sejak itu para pemikir politik mulai membahas masalah-masalah yang menyangkut batasan penerapan kekuasaan, hubungan antara yang memerintah serta yang diperintah, serta sistem apa yang paling baik menjamin adanya pemenuhan kebutuhan tentang pengaturan dan pengawasan.

Ilmu politik diawali dengan baik pada masa Yunani Kuno, membuat peningkatan pada masa Romawi, tidak terlalu berkembang di Zaman Pertengahan, sedikit berkembang pada Zaman Renaissance dan Penerangan, membuat beberapa perkembangan substansial pada abad 19, dan kemudian berkembang sangat pesat pada abad 20 karena ilmu politik mendapatkan karakteristik tersendiri.

Ilmu politik sebagai pemikiran mengenai Negara sudah dimulai pada tahun 450 S.M. seperti dalam karya Herodotus, Plato, Aristoteles, dan lainnya. Di beberapa pusat kebudayaan Asia seperti India dan Cina, telah terkumpul beberapa karya tulis bermutu. Tulisan-tulisan dari India terkumpul dalam kesusasteraan Dharmasatra dan Arthasastra, berasal kira-kira dari tahun 500 S.M. Di antara filsuf Cina terkenal, ada Konfusius, Mencius, dan Shan Yang(±350 S.M.).
Di Indonesia sendiri ada beberapa karya tulis tentang kenegaraan, misalnya Negarakertagama sekitar abad 13 dan Babad Tanah Jawi. Kesusasteraan di Negara-negara Asia mulai mengalami kemunduran karena terdesak oleh pemikiran Barat yang dibawa oleh Negara-negara penjajah dari Barat.

Di Negara-negara benua Eropa sendiri bahasan mengenai politik pada abad ke-18 dan ke-19 banyak dipengaruhi oleh ilmu hukum, karena itu ilmu politik hanya berfokus pada negara. Selain ilmu hukum, pengaruh ilmu sejarah dan filsafat pada ilmu politik masih terasa sampai perang Dunia II.

Di Amerika Serikat terjadi perkembangan berbeda, karena ada keinginan untuk membebaskan diri dari tekanan yuridis, dan lebih mendasarkan diri pada pengumpulan data empiris. Perkembangan selanjutnya bersamaan dengan perkembangan sosiologi dan psikologi, sehingga dua cabang ilmu tersebut sangat mempengaruhi ilmu politik. Perkembangan selanjutnya berjalan dengan cepat, dapat dilihat dengan didirikannya American Political Science Association pada 1904.

Perkembangan ilmu politik setelah Perang Dunia II berkembang lebih pesat, misalnya di Amsterdam, Belanda didirikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, walaupun penelitian tentang negara di Belanda masih didominasi oleh Fakultas Hukum. Di Indonesia sendiri didirikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, seperti di Universitas Riau. Perkembangan awal ilmu politik di Indonesia sangat dipengaruhi oleh ilmu hukum, karena pendidikan tinggi ilmu hukum sangat maju pada saat itu.Sekarang, konsep-konsep ilmu politik yang baru sudah mulai diterima oleh masyarakat.

Di negara-negara Eropa Timur, pendekatan tradisional dari segi sejarah, filsafat, dan hukum masih berlaku hingga saat ini. Sesudah keruntuhan komunisme, ilmu politik berkembang pesat, bisa dilihat dengan ditambahnya pendekatan-pendekatan yang tengah berkembang di negara-negara barat pada pendekatan tradisional.

Perkembangan ilmu politik juga disebabkan oleh dorongan kuat beberapa badan internasional, seperti UNESCO. Karena adanya perbedaan dalam metodologi dan terminologi dalam ilmu politik, maka UNESCO pada tahun1948 melakukan survei mengenai ilmu politik di kira-kira 30 negara. Kemudian, proyek ini dibahas beberapa ahli di Prancis, dan menghasilkan buku Contemporary Political Science pada tahun 1948.
Selanjutnya UNESCO bersama International Political Science Association (IPSA) yang mencakup kira-kira ssepuluh negara, diantaranya negara Barat, di samping India, Meksiko, dan Polandia. Pada tahun 1952 hasil penelitian ini dibahas di suatu konferensi di Cambridge, Inggris dan hasilnya disusun oleh W. A. Robson dari London School of Economics and Political Science dalam buku The University Teaching of Political Science. Buku ini diterbitkan oleh UNESCO untuk pengajaran beberapa ilmu sosial(termasuk ekonomi, antropologi budaya, dan kriminologi) di perguruan tinggi. Kedua karya ini ditujukan untuk membina perkembangan ilmu politik dan mempertemukan pandangan yang berbeda-beda.

Pada masa-masa berikutnya ilmu-ilmu sosial banyak memanfaatkan penemuan-penemuan dari antropologi, sosiologi, psikologi, dan ekonomi, dan dengan demikian ilmu politik dapat meningkatkan mutunya dengan banyak mengambil model dari cabang ilmu sosial lainnya. Berkat hal ini, wajah ilmu politik telah banyak berubah dan ilmu politik menjadi ilmu yang penting dipelajari untuk mengerti tentang politik.

Selasa, 13 September 2016

Pengertian Komunikasi massa

    Komunikasi massa adalah proses dimana organisasi media membuat dan menyebarkan pesan kepada khalayak banyak (publik). Organisasi - organisasi media ini akan menyebarluaskan pesan-pesan yang akan memengaruhi dan mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat, lalu informasi ini akan mereka hadirkan serentak pada khalayak luas yang beragam. Hal ini membuat media menjadi bagian dari salah satu institusi yang kuat di masyarakat.
Dalam komunikasi masa, media masa menjadi otoritas tunggal yang menyeleksi, memproduksi pesan, dan menyampaikannya pada khalayak.
unsur-unsur penting dalam komunikasi massa adalah :
  1. komunikator,
  2. media massa.
  3. informasi (pesan).
  4. gatekeeper.
  5. khalayak (publik) dan
  6. umpan balik.
Komunikator dalam komunikasi massa adalah:
pihak yang mengandalkan media massa dengan teknologi komunikasi modern, sehingga dapat dengan cepat diakses oleh publik.
Pihak yang berusaha memberikan jasa melalui penyebaran informasi dan sekaligus menjadi agen perubahan dalam pemahaman, wawasan dan solusi-solusi dengan jutaan massa yang tersebar dimanapun tanpa diketahui dengan jelas keberadaan mereka.
Pihak yang menjadi sumber informasi atau pemberitaan yang mewakili institusi formal yang sifatnya mencari keuntungan  dari penyebaran informasi itu.

Media massa adalah saluran/alat komunikasi dan informasi yang melakukan penyebaran informasi secara massal dan dapat diakses oleh masyarakat secara massal pula.

Informasi massa adalah informasi yang diperuntukan kepada masyarakat secara massal, bukan hanya informasi yang hanya dikonsumsi secara pribadi. Dengan demikian  informasi massa adalah milik publik, bukan individu.  Misalnya berita, iklan, sinetron, film, infoteinment, dsb.

Gatekeeper adalah penyeleksi informasi.  Sebagaimana diketahui bahwa komunikasi massa dijalankan oleh beberapa orang organisasi media massa, mereka inilah yang akan menyeleksi setiap informasi yang akan disebarkan kepada masyarakat. Bahkan mereka memiliki kewenangan untuk memperluas atau membatasi informasi yang akan disebarkan tersebut. Mereka adalah wartawan, editor, sutradara, dsb.

Khalayak adalah massa yang menjadi tujuan dari penyebaran informasi dari media massa. Mereka bersifat heterogen dan luas.

Umpan balik. Awalnya umpan balik bersifat tertunda namun dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi, maka komunikasi interaktif dapat dilakukan secara langsung melalui media massa.

B. CIRI – CIRI KOMUNIKASI MASSA
  1. Menggunakan media masa dengan organisasi (lembaga media) yang jelas.
  2. Komunikator memiliki keahlian tertentu
  3. Pesan searah dan umum, serta melalui proses produksi dan terencana
  4. Khalayak yang dituju heterogen dan anonim
  5. Kegiatan media masa teratur dan berkesinambungan
  6. Ada pengaruh yang dikehendaki
  7. Dalam konteks sosial terjadi saling memengaruhi antara media dan kondisi masyarakat serta sebaliknya.
  8. Hubungan antara komunikator (biasanya media massa) dan komunikan (pemirsanya) tidak bersifat pribadi.


C. KONSEP MASSA

Massa memiliki unsur-unsur penting, yaitu:
Terdiri dari sekelompok masyarakat dalam jumlah yang sangat besar, yang menyebar dimana-mana dan satu dengan lainnya tidak saling mengenal atau pernah bertemu atau berhubungan secara personal.
Jumlah massa yang besar menyebabkan massa tidak dapat dibedakan satu dengan lainnya. Misalnya penonton RCTI dengan Anteve.  Karenanya konsep massa dari segmentasi sulit diprediksi dengan angka-angka pasti (akurat).
Karena jumlah yang besar maka massa juga sukar diorganisir.  Jumlah massa yang besar itu cenderung bergerak sendiri-sendiri berdasarkan sel-sel massa yang dapat dikendalikan oleh orang-orang dalam sel itu.  Gerakan-gerakan massa akan semakin besar apabila sel-sel itu bertemu dan bergerak berdasarkan kondisi sesaat yang terjadi di lapangan.  Interaksi yang terjadi biasanya bersifat emosional.
Massa merupakan refleksi dari kehidupan sosial secara luas. Setiap bentuk kehidupan sosial merefleksikan suatu kondisi masyarakat secara keseluruhan.

D. PROSES KOMUNIKASI MASSA

Komunikasi massa dalam prosesnya melibatkan banyak orang yang bersifat kompleks dan rumit.  Menurut McQuail (1999)  proses komunikasi massa terlihat berproses dalam bentuk:
melakukan distribusi dan penerimaan informasi dalam skala besar. Jadi proses komunikasi massa melakukan distribusi informasi kemasyarakatan dalam skala yang besar, sekali siaran atau pemberitaan jumlahdan lingkupnya sangat luas dan besar.
proses komunikasi massa cenderung dilakukan melalui model satu arah yaitu dari komunikator kepada komunikan atau media kepada khalayak.  Interaksi yang terjadi sifatnya terbatas.
proses komunikasi massa berlangsung secara asimetris antara komunikator dengan komunikan.  Ini menyebabkan komunikasi antara mereka berlangsung datar dan bersifat sementara. Kalau terjadi sensasi emosional sifatnya sementara dan tidak permanen. 
 proses komunikasi massa juga berlangsung impersonal atau non pribadi dan anonim.
proses komunikasi massa juga berlangsung didasarkan pada hubungan kebutuhan-kebutuhan di masyarakat. Misalnya program akan ditentukan oleh apa yang dibutuhkan pemirsa.  Dengan demikian media massa juga ditentukan oleh rating yaitu ukuran di mana suatu program di jam yang sama di tonton oleh sejumlah khalayak massa.

E. BUDAYA MASSA

Komunikasi massa berproses  pada level budaya massa sehingga sifat-sifat komunikasi massa sangat dipengaruhi oleh budaya massa yang berkembang di masyarakat di mana  proses komunikasi itu berlangsung. Dengan demikian, maka budaya massa dalam dalam komunikasi massa memiliki karakter sebagai berikut:
non-tradisonal, yaitu umumnya komunikasi massa berkaitan erat dengan budaya populer.  Acara-acara infoteiment, variety show, Indonesian idol merupakan contohnya.
budaya massa juga bersifat merakyat, tersebar di basis massa sehingga tidak mengerucut pada tingkat elit, namun apabila ada elit yang terlibat dalam proses ini, maka itu bagian dari proses dari basis massa itu sendiri.
budaya massa juga memproduksi produk-produk massa.  Semua orang dapat memanfaatkan sebagai hiburan umum.
budaya massa sangat berhubungan dengan budaya populer sebagai sumber budaya massa.  Bahkan secara tegas dikatakan bahwa bukan populer kalau bukan budaya massa, artinya budaya tradisional juga dapat menjadi populer apabila menjadi budaya massa.  Misalnya srimulat, campursari atau ludruk.  Pada mulanya kesenian tradisional ini berkembang di masyarakat tradisional dengan karakter-karekter tradisional, namun ketika kesenian ini dikemas di media massa maka sentuhan-sentuhan populer mendominasi seluruh kesenian itu baik cerita, kostum, latar dan tidak lagi menjadi sebatas konsumsi masyarakat pedesaan.
budaya massa terutama diproduksi oleh media massa dengan biaya yang cukup besar dengan harapan menghasilkan keuntungan yang lebih besar sebagai kelanjutan budaya massa itu sendiri.  Karena itu budaya massa diproduksi secara komersial agar tidak saja menjadi jaminan keberlangsungan budaya massa namun juga menghasilkan keuntungan bagi kapital yang diinvestasikan pada kegiatan tersebut.
budaya massa juga diproduksi secara eksklusif dengan simbol-simbol kelas sosial atas sehingga terkesan modern dan prestisius, namun sebenarnya budaya massa untuk siapa saja yang ingin menikmatinya.  Syarat utama dari ekslusifitas budaya massa ini adalah keterbukaan dan kesediaan terlibat dalam budaya secara massal.

F. FUNGSI KOMUNIKASI MASSA

Komunikasi massa adalah salah satu aktivitas sosial yang berfungsi di masyarakat.  Robert K.Merton mengemukakan bahwa fungsi aktivitas sosial memiliki dua aspek, yaitu fungsi nyata (manifest function) adalah fungsi nyata yang diinginkan, kedua fungsi tidak nyata atau tersembunyi (latent function), yaitu fungsi tidak diinginkan.  Sehingga pada dasarnya setiap fungsi sosial dalam masyarakat itu memiliki efek fungsional dan disfungsional.

Selain manifest function dan latent function, setiap aktivitas sosial juga berfungsi melahirkan (beiring function) fungsi-fungsi sosial lain, bahwa manusia memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat sempurna.  Sehingga setiap fungsi sosial yang dianggap membahayakan dirinya, maka ia akan mengubah fungsi-fungsi sosial yang ada.  Contohnya pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh pemerintah, disatu sisi adalah untuk membersihkan masyarakat dari praktik korupsi, namun di sisi lain tindakan pemberantasan korupsi yang tidak diikuti dengan perbaikan sistem justru akan menimbulkan ketakutan bagi aparatur pemerintah secara luas tentang masa depan mereka karena merasa tindakannya selalu diawasi, ditakuti dan ditindak.  Tak adanya perbaikan sistem yang baik dan ketakutan justru akan melahirkan (beiring) model-model korupsi baru yang lebih canggih.  Dengan demikian, aktivitas sosial lama itu ketika mendapat tekanan sosial, kemudian mengalami metamorfosa dan kemudian melahirkan aktivitas sosial.

Begitu pula dengan fungsi komunikasi media massa, sebagai aktivitas sosial masyarakat, komunikasi media massa juga mengalami hal yang serupa.  Seperti pemberitaan bahaya Tsunami terhadap kehidupan masyarakat pantai.  Di satu sisi pemberitaan tersebut adalah informasi mengenai bagaimana masyarakat pantai dapat menghindari bahaya Tsunami ketika bencana itu datang, tapi pemberitaan itu juga sekaligus menciptakan ketakutan dan kecemasan yang amat sangat bagi masyarakat yang hidup di pesisir pantai.  Bahkan pemberitaan itu juga berdampak buruk bagi orang-orang pegunungan yang akan merencanakan pindah tempat tinggal ke daerah pesisir.

1. Fungsi pengawasan

Media massa merupakan sebuah medium di mana dapat digunakan untuk pengawasan terhadap aktivitas masyarakat pada umumnya. Fungsi pengawasan ini bisa berupa peringatan dan kontrol sosial maupun kegiatan persuasif.  Pengawasan dan kontrol sosial dapat dilakukan untuk aktivitas preventif untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.  Seperti, pemberitaan bahaya narkoba bagi kehidupan manusia yang dilakukan melalui media massa dan ditujukan kepada masyarakat, maka fungsinya untuk kegiatan preventif agar masyarakat tidak terjerumus dalam pengaruh narkoba.  Sedangkan fungsi persuasif sebagai upaya memberi reward dan punishment kepada masyarakat sesuai dengan apa yang dilakukannya.  Medai massa dapat memberi reward kepada masyarakat yang bermanfaat dan fungsional bagi anggota masyarakat lainnya,  namun sebagainya akan memberikan punishment apabila aktivitasnya tidak bermanfaat bahkan merugikan fungsi-fungsi sosial lainnya di masyarakat.

2. Fungsi social learning

Fungsi utama dari komunikasi massa melalui media massa adalah melakukan guiding dan pendidikan sosial kepada seluruh masyarakat.  Media massa bertugas untuk memberikan pencerahan-pencerahan kepada masyarakat   di mana komunikasi massa itu berlangsung.  Komunikasi massa itu dimaksukan agar proses pencerahan itu berlangsung efektif dan efisien dan menyebar secara bersamaan di masyarakat secara luas.  Fungsi komunikasi massa ini merupakan sebuah andil yang dilakukan untuk menutupi kelemahan fungsi-fungsi paedogogi yang dilaksanakan melalui komunikasi tatap muka, di mana karena sifatnya, maka fungsi paedogogi hanya dapat berlangsung secara eksklusif antara individu tertentu saja.

3. Fungsi penyampaian informasi

Komunikasi massa yang mengandalkan media massa, emiliki fungsi utama, yaitu menjadi proses penyampaian informai kepada masyarakat luas.  Komunikasi massa memungkinkan informasi dari institusi publik tersampaikan kepada masyarakat secara luas dalam waktu cepat sehingga fungsi informasi tercapai dalam waktu cepat dan singkat.

4. Fungsi transformasi budaya

Fungsi informatif adalah fungsi-fungsi yang bersifat statis, namun fungsi-fungsi lain yang lebih dinamis adalah fungsi transformasi budaya.  Komunikasi massa sebagaimana difat-sifat budaya massa, maka yang terpentin adalah komunikasi massa menjadi proses transormai budaya yang dilakukan bersama-sama oleh semua komponen komunikasi massa, terutama yang dilakukan oleh media massa.
Fungsi transformasi budaya ini menjadi sangat penting dan terkait dengan fungsi-fungsi lainnya terutama fungsi social learning, akan tetapi fungsi transformasi budaya lebih kepada tugasnya yang besar sebagai bagian dari bidaya global.  Sebagaimana diketahui bahwa perubahan-perubahan budaya yang disebabkan karena perkembangan telematika menjadi perhatian utama semua masyarakat di dunia, karena selain dapat dimanfaatkan untuk pendidikan juga dapat dipergunakan untuk fungsi-fungsi lainnya, seperti politik, perdagangan, agama, hukum, militer, dan sebagainya.  Jadi, tidak dapat dihindari bahwa komunikasi massa memainkan peran penting dalam proses ini di mana hampir semua perkembangan telematika mengikut-sertakan proses-proses komunikasi massa terutama dalam proses transformasi budaya.

5. Hiburan

Fungsi lain dari komunikasi adalah hiburan, bahwa seirama dengan fungsi-fungsi lain, komunikasi massa juga digunakan sebagai medium hiburan, terutama karena komuniasi massa menggunakan media massa, adi fungsi-fungsi hiburan yang ada pada media massa juga merupakan bagian dari fungsi komunikasi massa.
Transformasi budaya yang dilaksanakan oleh komunikasi massa mengikut-sertakan fungsi hiburan ini sebagai bagian penting dalam fungsi komunikasi massa.  Hiburan tidak terlepas dari fungsi media massa itu sendiri dan juga tidak terlepas dari tujuan transformasi budaya.  Dengan demikian, maka fungsi hiburan dari komunikasi massa saling mendukung fungsi-fungsi lainnya dalam proses komunikasi massa.

KOMUNIKASI MASSA SEBAGAI  SISTEM SOSIAL

Kata sistem berassal dari bahasa Yunani, yaitu systema.  Artinya sehimpunan dari bagian atau komponen yang saling berhubungan satu sama lain secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan (Narwoko dan Suyanto, 2004:123).  Dalam tradisi ilmu sosial penggunaan istilah sistem lebih sering digunakan untuk merujuk pada pengertian sebuah sistem organik, yaitu sebuah sistem yang didalamnya terdiri dari beberapa komponen yang lebih kecil yang memiliki kehidupan (animate).  Istilah ini digunakan untuk membedakan penggunaan istilah yang sama pada ilmu-ilmu eksakta, di mana sebuah sistem anorganik terdiri dari beberapa komponen yang lebih kecil yang tak berjiwa (in-animate).  Walaupun demikian, kedua istilah sistem itu mengarah kepada pengertian sistem sebagai sebuah himpunan kehidupan sosial yang terdiri dari komponen-komponen yang saling berhubungan satu dengan lainnya secara teratur dan sistematis serta membentuk suatu kehidupan yang menyeluruh.

Di masyarakat, sistem digunakan untk beberapa pengertian sebagai berikut:
sistem ditujukan sebagai gagasan atau ide yang tersusun, terorganisir dan membentuk suatu kesatuan yang sistematis dan logis, umpanya adalah filsafat, nilai pemerintahan, demokrasi, kekerabatan, dan sebagainya.
sistem yang merujuk pada pengertian sebuah kesatuan, kelompok, sebuah himpunan dari beberapa unit atau komponen yang terpisah-pisah, memiliki hubungan-hubungan khusus sehingga membentuk sebuah keseluruhan yang utuh, seperti pesawat terbang, komputer, arloji, dan sebagainya.
sistem ditujukan untuk menyebutkan sebuah metod, cara, tehnik yang digunakan, seperti sistem belajar, sistem pelatihan, sistem bertindak, dan sebagainya.

Talcot Parson membagi karakter sistem sosial menjadi :

  1. Karakter himpunan yaitu sistem terdiri dari beberapa komponen yang terdapat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
  2. Karakter equilibrium, yaitu sistem merupakan sebuah kehidupan yang seimbang diatur oleh norma dan aturan-aturan dalam masyarakat tersebut. (Ritzer dan Goodman, 2003)

Hal-hal yang dapat dimanfaatkan dari teori sistem adalah:

  1. sistem sebagai suatu teori dapat digunakan semua ilmu-ilmu sosial.
  2. sistem mengandung banyak tingkatan dan dapat diaplikasikan pada aspek dunia sosial berskala besar maupun kecil, ke aspek ruang paling subjektif dan objektif.
  3. teori sistem tertarik pada keragaman hubungan dari berbagai aspek dunia sosial.
  4. pendekatan sistem cenderung menganggap melihat semua aspek sosiokultural dari segi proses, khususnya jaringan informasi dan komunikasi.
  5. teori sistem bersifat inherent dan integratif (Ritzer dan goodman; 2003)

Komunikasi massa sebagai sistem sosial memiliki komponen-komponen penting yaitu :
nara sumber sebagai sumber-sumber informasi bagi media massa.
publik yang mengkonsumsi media massa.
media massa meliputi, organisasinya, sumber daya manusia, fasilitas produksi, distribusi, kebijakan yang ditempuh, ideologi yang diperjuangkan, dsb.
aturan hukum dan perundang-undangan, norma-norma dan nilai-nilai, serta kode etik yang mengatur pelaksanaan semua stakeholder komunikasi massa.
institusi pendukung yang tumbuh untuk memberikan kontribusi terhadap kegiatan komunikasi massa, seperti percetakan, periklanan, production house, dll.
pihak-pihak yang mengendalikan berlangsungnya komunikasi massa, permodalan, penguasa, kekuatan politik, maupun kelompok kepentingan.
unsur-unsur penunjang lain yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan komunikasi massa.  Contohnya perusahaan penghasil teknologi komunikasi, kondisi sosial, ekonomi, politik,  kondisi global internasional dan percaturan politik dunia.

G. PERAN MEDIA MASSA

Media massa adalah institusi yang berperan sebagai agen of change, yaitu sebagai institusi pelopor perubahan.  Ini adalah paradigma utama media massa. Dalam menjalankan paradigmanya media massa berperan:
sebagai institusi pencerahan masyarakat, yaitu perannya sebagai media edukasi.  Media massa menjadi media yang setiap saat mendidik masyarakat supaya cerdas, terbuka pikirannya, dan menjadi masyarakat yang maju.
media massa menjadi media informasi bagi masyarakat. Dengan banyak informasi masyarakat menjadi lebih mampu berpartisipasi dalam setiap aktivitasnya.
media massa sebagai media hiburan.  Sebagai agent of change, media massa juga menjadi institusi budaya, menjadi corong kebudayaan, katalisator perkembangan budaya.

H.  EFEK KOMUNIKASI MASSA

Berdasarkan teorinya, efek komunikasi masa dibedakan menjadi tiga macam efek, yaitu efek terhadap individu, masyarakat, dan kebudayaan.
A. Efek komunikasi masa terhadap individu
Menurut Steven A. Chafee, komunikasi masa memiliki efek-efek berikut terhadap individu:
  1. Efek ekonomis: menyediakan pekerjaan, menggerakkan ekonomi (contoh: dengan adanya industri media massa membuka lowongan pekerjaan)
  2. Efek sosial: menunjukkan status (contoh: seseorang kadang-kadang dinilai dari media massa yang ia baca, seperti surat kabar pos kota memiliki pembaca berbeda dibandingkan dengan pembaca surat kabar Kompas.
  3. Efek penjadwalan kegiatan
  4. Efek penyaluran/ penghilang perasaan
  5. Efek perasaan terhadap jenis media
Menurut Kappler (1960) komunikasi masa juga memiliki efek:

  • conversi, yaitu menyebabkan perubahan yang diinginkan dan perubahan yang tidak diinginkan.
  • memperlancar atau malah mencegah perubahan
  • memperkuat keadaan (nilai, norma, dan ideologi) yang ada.

Minggu, 28 Agustus 2016

MAHASISWA MASA KINI

MAHASISWA MASA KINI

 

Oleh : Anan Abdul Azis

 

 Arus perkembangan zaman dan globalisasi ternyata tak mampu dibendung oleh sebagian mahasiswa. Zaman dan globalisasi telah menggerus semangat perjuangan dan idealisme yangselama ini di sematkan kepada para mahasiswa. Rakyat sekarang tak begitu simpatik dengan mahasiswa padahal jika kita mengenang dulu bagaimana mahasiswa bersama rakyat merebut demokrasi dan menurunkan orde baru. Tridharma perduruan tinggi yang ke tiga yaitu pengabdian kepada masyarakat takbegitu tersentuh. 

Mahasiswa cenderung apatis dan mementingkan diri sendiri serta berhura hura menikmati masa mudanya.

Tak jarang bergerak hanya bila ada untungnya.

 

 Kondisi seperti ini sungguh sangat memprihatinkan dimana mahasiswa yang seharunya menjadi pilar penting dalam mengisi kemerdekaan dan menyongsong ke depan justru bersikap apatis, hedonis dan pragmatis. Idealisme yang diusung dimasa lampau hanya menjadi mitos dan dongen bagi mahasiswa baru.

 

Mahasiswa Apatis

 

Apatis artinya tidak peduli atau masa bodoh. Mahasiswa yang apatis berarti mahasiswa yang tidak peduli atau tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar, terhadap kondisi bangsannya dan bersikap masa bodoh serta tidak peduli. 

Sikap seperti inikah yang dimliki mahasiswa ?. Mahasiswa apabila didefinisikan sebagai kaum intelektual muda tentunya saat ini akan banyak pertanyaan yang mempertanyakanya. Kenapa? 

sebab lebel sebagai intelektual muda seakan tidak terlihat dalam diri para mahasiswa saat ini, khususnya dalam hal-hal aspek kemasyarakatan seperti sosial, politik, agama dan budaya.

 

 Dimana mahasiswa yang sering diidentikkan dengan sebutan agent of change dan iron stock atau yang lainnya yang selalu ada digarda terdepandengan gerakan-gerakan massif dan progressifnya ternyata bersikap apatis (tidak mau tahu).

 

Sikap apatis mahasiswa dalam melihat kondisi sekitarnya secara fakta dan realita yang menyangkut masa depan bangsa dan negeri ini serta keberadaan orang banyakpun sudah merajalela tertanam dalam diri mahasiswa hari ini. Sungguh tragis, kepekaan dan sikap kritis yang seharusnya menjadi life style, mind style dan paradigma idealis para mahasiswa dalam berfikir kini malah justru dilupakan bahkan ditinggalkan. 

Jiwa reformis dan revolusioner seakan menghilang dalam sanubari hati nurani mahasiswa sebagai kaum intelektual muda yang akan menjadi iron stock (cadangan dimasa depan) baik berupa ide dan konsep pemikirannya, kontribusi dan kerja-kerja nyatanya.

 

Mahasiswa Hedonis

 

Adapun perilaku hedonis dengan budaya konsumerisme yang sering dilakukan para mahasiswa dengan mengatasnamakan modernitas dan life style seakan-akan menyempurnakan sikap dan kondisi mahasiswa hari ini yaitu apatis dan hedonis sehingga menghasilkan sifat-sifat personal yang kerdil yaitu individualistik apatis-hedonislife style.

Mementingkan diri sendiri tidak peduli dengan keadaan yang ada, kondisi sekitar juga orang lain, miskin ide,mudah frustasi, bertingkah laku bodoh dan semaunya. Itulah sifat dan sikap yang terlihat dalam diri mahasiswa hari ini.

 

Mahasiswa Pragmatis

 

Sosok pragmatis cenderung mengutamakan segi praktis dan instan. Baik buruknya sesuatu ditentukan dengan kebermanfaatannya, baik bila menghasilkan keuntungan yang besar dan buruk bila merugikan. 

Seorang pragmatis cenderung bersifat "profit hunter" dan mengabaikan proses untuk mendapatkan profit tersebut. Bahkan dalam prosesnya terkadang menabrak norma-norma yang telah ada. Mahasiswa sekarang ini cenderung melakukan hal itu mulai dari dalam perkuliahan maupun diluar perkuliahan. Dimana tak jarang mahasiswa yang katanya aktivis pun dalam kegiatanya diboncengi oleh kepentingan-kepentingan politik praktis maupun kepada kepentingan borjuis tertentu demi keuntungan pragmatis yang hal ini tentunya memandulkan independensi mahasiswa.

 

Reorientasi Pola Pikir Mahasiswa Masa Kini

 

Sejatinya kita perlu reorientasi arah gerak dan perjuangan mahasiswa. Dengan sejenak mengabaikan sejarah, kita berlu turun ke titik nadi untuk berkontemplasi dengan waktu dan diri kita mengkritisi sendiri jalan panjang perjuangan yang telah mahasiswa rintis di negeri ini. Penting bagi kita memahami,saatnya kita bangkit dan bersatu. Dengan berbagai macam identitas kita yang perlu kita tampilkan cuma satu: MAHASISWA INDONESIA. Yang bersatu, teguh dan berintelektual.

 

Hilangkan perbedaan kalau persamaan adalah kekuatan kita. Hilangkan persamaan kalau kita bisa menerima perbedaan sebagai jalan keluar terbaik untuk bersatu. Keduanya merupakan pilihan jitu bagi pengembangan kehidupan berbangsadan bagi masyarakat agar tidak perlu jauh-jauh dari kata ’sejahtera’.

 

Poros cakrawala bangsa bernama mahasiswa itu kini kian rapuh. Namun sungguh tidak layak menggunakan logika generalisasi dalam memandang mereka. Masih ada segelintir mahasiswa yang masih teguh dalam mencengkeram idealismenya. 

Mereka sadar bahwa integritas adalah hampa tanpa integrasi, sehingga berusaha untuk memenuhi kewajiban dan kebutuhan di segala aspek lini kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara secara seimbang dan terpadu. 

 

 

Mereka sadar akan eksistensi dirinya bukan untuk mendapat kedudukan, materi, popularitas dan egomania atas kesuksesan pribadi, sehingga berusaha mencapai segala cita-cita pribadinya namun tetap kontributif bagi kebangkitan negerinya. Mereka giat mengikuti pembelajaran akademis, namun juga getol mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi; menghidupkan organisasi kemahasiswaan dengan kegiatan-kegiatan didaktis-progresif, sehingga organisasi mereka bukan sekedar sebagai event organizer; sadar bahwa lingkungan mereka bukan hanya dunia kampus, namun bumi Indonesia, sehingga peduli dengan wacana nasional yang berhubungan dengan kerakyatan namun tetap independen; tahu persis kapan harus mengkaji wacana, kapan harus melakukan branstorming dan kapan harus turun ke jalan; tidak terkekang oleh arus deras yang cenderung dimanipulasi oleh anasir kepentingan pragmatis dan dipenuhi kendali konspirasi, namun justru menentukan arah arus dan merekayasanya demi perubahan ke arah kebaikan.

 

 Sayangnya, mahasiswa model ini sudah sangat langka di hamparan Indonesia.

Untuk itu sangatlah penting dan diperlukanya reorientasi pemikiran mahasiswa. Memang seperti terlambat tapi apa salahnya kita lakukan dari pada tidak melakukan apa apa. Kita yang masih mengaku sebagai mahasiswa idealisnan kritis serta peduli terhadap bangsa dan negara hendaklah menurunkan apa yang kita yakini kepada junior kita. 

 

Dengan harapan merekalah yang akan mewarisi semangat mahasiswa sebagai regenerasi angkatan 98 yang sangat heroik.Untuk itu penting adanya peranandan fungsi dari OSPEK yang merupakan jembatan dan gerbang untuk mengenal dunia kampus. 

 

OSPEK bukanlah sebuah kegiatan perploncoan, melainkan sebuah kegiatan pengenalan kepada mahasiswa baru tentang bagaimana kehidupan kampus dan memperkenalkan dan menanamkan nilai bagaimana fungsi mahasiswa terhadap negara, bangsa dan masyarakat.Tentunya orientasi pemikiran dan pergerakan mahasiswa sekarang berbeda dengan dulu. Mahasiswa tak perlu lagi berjuang melawan penjajah atau menurunkan rezim tertentu, tetapi mahasiswa saat ini menjadi elemen penting dalam pembagunan bangsa.

 Sebagai sosial kontrol kepada pemerintah yang berkuasa serta sebagai agen perubahan yang memiliki inofasi serta gagasan besar dalam membangun bangsa dan negara. 

Tidak lupa fungsinya sebagai pengawal masyarakat yang merupakan tri dharma perguruan tinggi yang ke3 pengabdian kepada masyarakat. 

Kelak ilmu yang didapat sewaktu perkuliahan dapat berguna bagi masyarakat.

 

Oleh karenanya paling tidak dalam OSPEK mencakup beberapa aspek penanaman nilai kepada mahasiswa baru diantaranya :

 

  1. Kepemimpinan : Dimana penting dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan dalam diri seseorang dalam hal ini mahasiswa yang kelak diproyeksikan akan menjadi pemimpin dimasa yang akan datang.
  2. Idealisme  : Sangat penting bagaimana mahasiswa harus memiliki idealitas yang tangguh dan tidak mudah terpengaruh terhadap berbagai hal negatif. Dimana mahasiswa harus membela apa yang dianggapnya merupakan sebuah kebenaran dan menentang apa yang dianggapnya sebuah ketidakadilan.
  3. Kritis : Mahasiswa selalu dituntut untuk menjadi pribadi yang kritis dalam menyikapi berbagai hal termasuk berbagai isu yang ada didalalam masyarakat. Kritis dalam mencari sebuah kebenaran dan kritis dalam menyikapi ketidakadilan.
  4. Kepekaan Sosial : Mahasiswa dituntut memiliki kepekaan sosial dimana mahasiswa mengemban amanah dari rakyat sebagai kaum intelektual yang diharapkan akan membawa perubahan besar terhadap bangsa dan negara dengan harapan akan menjadiakan negara ini makmur dan sejahtera. 

 

Mahasiswa memiliki kodrat hubungan yang erat dengan masyarakat sehingga diharapkan dapat berpihak kepada rakyat dan membela kepentingan rakyat sebagai mana tri dharma perguruan tinggi yang ke tiga pengabdian kepada masyarakat.

 

Setidaknya itulah yang harus ditanamkan kepada mahasiswa agar perannya sebagai agent of change, agent of social control, iron stock serta berbagai peranan lain tetap ada dalam diri mahasiswa sekarang.

 

 Harapanya semangat heroik mahasiswa terdahulu dapat terus mengalir dalam regenerasi mahasiwa dari masa ke masa sehingga mahasiswa akan terus menjadi simbol perubahan yang lebih baik. Kedepan dapat kita lihat sejarah akan teretak kembali oleh para mahasiswa dalam konteks yang berbeda bukan lagi dalam menurunkan rezim tetapi dalam sebuah prestasi untuk membangun negeri sesuai dengan potensi dan kemampuan masing-masing.

 

 

#HIDUPMAHASISWA

 

Kemajuan Teknologi: Manfaat Besar yang Bisa Menjadi Bumerang Jika Tak Dikelola dengan Baik

  Pendahuluan Tidak ada satu pun peradaban dalam sejarah manusia yang berkembang tanpa teknologi. Dari penemuan roda, mesin cetak, listrik, ...